Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memulai transisi kekuatan berasal dari fosil ke kekuatan yang lebih ramah lingkungan, tapi transisi ini membutuhkan anggaran yang besar.

Hal berikut dikatakan Jokowi di dalam acara World Economic Forum,”Komitmen Indonesia telah kita nyatakan pada COP26 di Glasgow, bahwa Indonesia telah berkomitmen untuk memulai transisi ke kekuatan ramah lingkungan, tapi transisi kekuatan membutuhkan pembiayaan pendanaan yang amat besar dan akses pada teknologi hijau,” kata Jokowi.

Menurut Jokowi bagi negara berkembang layaknya Indonesia transisi kekuatan hijau wajib di dukung kekuatan teknologi dan di dukung bersama pendanaan supaya tidak amat membebani masyarakat, amat membebani keuangan negara, amat membebani industri flow meter.

“Indonesia andaikata membutuhkan USD50 miliar untuk transformasi menuju ke kekuatan baru terbarukan dan butuh USD37 miliar untuk sektor kehutanan kegunaan lahan dan karbon laut. Indonesia dan negara berkembang berharap kontribusi negara maju untuk pembiyaaan dan transfer teknologi,” ujarnya.
Sehingga, kata dia, sumber pendanaan dan alih teknologi bakal jadi game changer pengembangan skema pendanaan inovatif wajib dilakukan.

“Pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan berasal dari banyak negara berkembang banyak negara miskin bertanyaan tentang ini dan hasil konkrit hanya mampu dibuktikan oleh kuatnya kerjasama,” tuturnya.

Pemerintah Indonesia sendiri, kata Jokowi, tidak mampu bekerja sendiri, wajib bekerja sama secara domestik, bekerja sama secara global.”Bekerja sama di di dalam negeri pemerintah bekerjasama bersama BUMN kekuatan dan pihak swasta untuk mendesain transisi kekuatan yang adil dan terjangkau,” katanya.

Sementara kerja sama di tingkat internasional pemerintah telah bekerjasama bersama ADB memulai mekanisme transisi energi. “Dari batubara ke kekuatan baru terbarukan dan yang paling mutlak sesungguhnya bagaimana dua hal tadi sekali kembali teknologi, pendanaan jadi kunci,” pungkasnya.