KESEHATAN

Home KESEHATAN Page 8

Mengonsumsi Susu Pengganti Makan Lansia untuk Lansia Susah Makan, Bolehkah?

0
Mengonsumsi Susu Pengganti Makan Lansia untuk Lansia Susah Makan, Bolehkah?

Mengonsumsi Susu Pengganti Makan Lansia untuk Lansia Susah Makan, Bolehkah?

Tak hanya anak-anak yang umumnya susah makan dan mengalami penurunan nafsu makan, orang lanjut usia juga kerap mengalami masalah ini. Meskipun begitu Anda tak lantas menganggap hal ini menjadi hal yang wajar, karena apabila dibiarkan dapat berdampak pada malnutrisi. Karena itu tak sedikit yang memilih untuk memberikan susu pengganti makan lansia.

Namun ketika lansia susah makan, apakah hanya mengonsumsi susu saja sudah dapat memenuhi asupan nutrisi harian lansia? Pertanyaan tersebut mungkin kerap membayangi mereka yang sedang merawat lansia dalam kondisi susah makan atau menurunnya nafsu makan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, simak ulasan di bawah ini!

Lansia Diperbolehkan Mengonsumsi Susu, Tetapi…

Tak jarang lansia susah makan terjadi karena beberapa faktor seperti susah menelan, gigi ompong, atau masalah pencernaan lain yang kerap menyerang lansia. Untuk itu mereka memilih mengonsumsi susu karena tak akan menyusahkan mereka, dibandingkan dengan mengonsumsi makanan berat yang mengharuskan mereka menggigit dan mengunyah.

Meskipun susu tersebut berlabel susu pengganti makan lansia, namun bukan berarti susu dapat menggantikan peran makanan sebagai asupan nutrisi penting bagi tubuh.

Perlu diperhatikan bahwa lansia diperbolehkan mengonsumsi susu, namun bukan berarti lansia hanya diberikan susu pengganti makanan saja untuk memenuhi nutrisi hariannya. Apabila lansia hanya mengonsumsi susu saja tanpa asupan makanan lain, ditakutkan lansia akan mengalami kekurangan nutrisi karena asupan nutrisi tubuh tidak terpenuhi dengan baik.

Peran Susu Hanya Sebagai Pembantu

Lansia tetap membutuhkan nutrisi lainnya selain susu, karena mengonsumsi susu saja tak cukup untuk memenuhi segala jenis nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Peran susu disini adalah membantu lansia agar dapat mengonsumsi makanan lainnya untuk menyeimbangkan kadar nutrisi tubuh.

Anda juga dapat memanfaatkan susu sebagai alat pancingan bagi lansia yang sulit makan makanan lain.

Contohnya Anda menyediakan susu pada pagi, siang dan malam hari sebagai pendamping makanan lain. Pada saat tiba waktu makan lansia, Anda bisa mencoba untuk memberikan makanan lain terlebih dahulu. Katakan kepada mereka untuk mengonsumsi makanan berat terlebih dahulu, setelahnya barulah mereka boleh mengonsumsi susu.

Selain Mengonsumsi Susu, Inilah Tips Mengatasi Susah Makan Lansia!

Merawat lansia memang membutuhkan kesabaran ekstra, terlebih ketika lansia mengalami penurunan nafsu makan sehingga sulit untuk makan makanan lain selain susu. Berikut ini terdapat beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi selera makan lansia yang menurun:

  • Anda bisa membantu meningkatkan asupan kalori harian pada lansia dengan memberikan mereka olahan susu, contohnya keju
  • Anda bisa mencoba beralih ke metode pemberian porsi makan sedikit namun memberikannya dalam frekuensi yang lebih sering
  • Hindari mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak untuk lansia, contohnya kue dan biskuit
  • Cobalah untuk menyediakan menu makanan pilihan lansia yang disukai oleh mereka

Demikianlah informasi penting seputar susu pengganti makan lansia. Semoga bermanfaat!

Ini Dia Pemicu Anak Alami Tantrum yang Sering Membuat Orangtua Stress

0
Pemicu Anak Alami Tantrum

Baru memegang predikat sebagai orangtua sering membuat sebagian orang merasa ada banyak tanggung jawab yang harus dilakukan. Termasuk mengatasi sifat dan sikap sang anak yang bisa sangat beragam. Salah satunya ketika ia mengalami tantrum. Sikap tantrum ini sebenarnya wajar dialami oleh anak di usia 1-5 tahun karena wujud dari perkembangannya. Namun tantrum pada anak juga bisa jadi ciri orangtua yang kurang tepat dalam mendidik, atau juga kondisi tertentu seperti kelainan.

Penyebab Tantrum pada Anak

Sikap tantrum yang bisa dialami atau dikeluarkan oleh anak ini menggambarkan kondisi yang sedang ia alami, khususnya berpusat pada perasaannya. Beberapa penyebab anak alami tantrum yaitu:

1.     Anak Masih Terbatas dalam Berbicara

Di masa pertumbuhannya, ada fase dimana anak umumnya bisa melakukan hal-hal yang berupa standar kemampuan. Seperti kemampuannya dalam berbicara. Anak yang sering tantrum kemampuan untuk berbicaranya terbatas, misalnya di usia balita.

Karena keterbatasan tersebutlah anak menjadi tantrum dan merasa kesal karena ia menganggap orang di dekatnya tidak mampu memahami perkataannya. Anda bisa coba dekati dan bertanya tentang perkataan apa yang kiranya ia ingin bicarakan.

2.     Kemampuan Mengekspresikan Perasaan yang Belum Terlatih Maksimal

Selain kemampuan berbicara, tantrum pada anak pun bisa disebabkan kurangnya anak berlatih mengekspresikan perasaannya. Seperti ketika ia marah karena kecewa, ia pun hanya bisa menangis dan mengamuk. Beberapa kondisi, anak yang memiliki sikap tantrum cenderung sulit diajak berkomunikasi dan tidak memiliki ekspresi di wajahnya.

3.     Cara Anak Mendapatkan Keinginannya yang Salah

Tantrum bisa menjadi satu kunci anak untuk meminta sesuatu. Ia menyadari jika orangtuanya akan langsung mengabulkan keinginannya saat ia mengeluarkan sikap tantrum tersebut. Misalnya saat pergi ke mall, ia mengeluarkan sikap tantrum. Kebanyakan orangtua akan memberikan sesuatu untuk membuatnya berhenti menangis. Nyatanya kebiasaan ini malah semakin memperparah sikap tantrumnya.

4.     Mengalami Gangguan Kesehatan atau Perilaku Tertentu

Tips parenting berikutnya ialah dalam hal anak berkebutuhan khusus yang membuat anak memang memiliki kemampuan berbicara dan mengekspresikan perasaannya tergolong rendah. Bahkan sikap tantrum ini bisa dialami sejak ia sangat kecil dan belum memahami apa pun. Biasanya untuk atasi sikap atau kebiasaan tantrum tersebut, Anda bisa minta bantuan dokter dan terapis ahli.

Anda bisa secepatnya bawa anak ke dokter jika sudah merasa tantrumnya tidak normal. Atau juga berkonsultasi bagaimana menghadapi tantrum pada anak yang sedang dialami oleh Anda. Sebab bentuk atau rupa dari sikap tersebut akan berbeda dari masing-masing anak yang mengalaminya. Ada yang bisa menangis dan mengamuk, ada juga yang tetap tidak ingin melakukan apa pun sambil berteriak, dan banyak lagi. Tantrum bisa dialami ketika ia merasakan rasa lapar, perasaan bosan, lelah, dan lainnya.