“Terima kasih atas minatnya, silakan menanti dua minggu untuk tahapan seterusnya,”

 

Kalimat ini menjadi makanan setiap hari beberapa jobseeker sesudah melamar pekerjaan. Umumnya, HRD memakan waktu saat sebelum memberitahukan kembali apa calon itu sesuai kwalifikasi yang disuruh. Tetapi realitanya, beberapa HRD malah lenyap beberapa bulan tanpa memberikan kepastian status jobseeker.

 

Peristiwa “lenyapnya” HRD ini dikatakan sebagai ghosting.

 

Saat sebelum mengulas pemicu dan langkah menanganinya, silahkan kita saksikan asal-usul istilah ini dibuat. Menurut Urban Dictionary, ghosting maknanya akhiri sebuah jalinan tanpa berikan teguran lebih dulu. Pemakaian kata ghosting ada karena trend program kencan online yang memungkinkannya seorang bisa kenalan dengan seseorang dalam sekejap.

 

Sebagai contoh, A kenalan dengan B melalui program kencan online. Tetapi saat proses PDKT, A berasa kurang pas dengan gebetannya. Karena takut sakiti hati B, pada akhirnya A lenyap dan memblok account sosial media B. Menurut A, hal tersebut lebih bagus dibanding menampik B terus-terang.

 

Walau sebenarnya, apa yang sudah dilakukan A itu beresiko, lho! Mungkin B berasa frustasi karena kehilangan akses untuk mengontak A. Ghosting mengakibatkan seorang berasa dimainkan dan tidak dipandang atas upayanya sejauh ini.

 

Sekarang, ghosting tidak cuma terjadi dalam pertalian cinta. Kata barusan memvisualisasikan keadaan di dunia kerja. Banyak calon yang mengeluhkan karena usaha yang dikeluarkan untuk melamar pekerjaan tidak sesuai dengan tindakan HRD. “Apa sulitnya sich ngabarin jika kita bisa lolos atau tidak?” tutur seorang rekan saat share pengalaman di-ghosting HRD.

 

Pemicu HRD Kerap Ghosting

Digantungin itu tidak nikmat, apa lagi bila terkait dengan tugas. Pasti kamu ingin tahu, kurang lebih apa sich sebagai argumen HRD sukai ghosting calon pegawai? Inilah penuturannya!

 

  1. Kandidat yang Terlampau Banyak

Tahu tidak? Sehari-harinya, portal job Glassdoor terima 250 CV (Curriculum Vitae) dari 1 lowongan kerja yang di-posting. Angka ini bertambah bila lowongan itu ditebarluaskan ke sosial media Linkedin. Bayangin, berapakah helai CV yang perlu disaksikan sama Mas dan Mbak HR?

 

Ini menjadi salah satunya argumen lamaran tugasmu tidak digubris oleh HRD. Atau mereka telah mendapati calon lain hingga lupa untuk menghubungi jika status itu sudah berisi.

 

  1. Keinginan Pemakai

Pemakai ialah atasan pada tempat kita bekerja. Dia yang membuat syarat dan jobdesk dalam suatu lowongan kerja. Pemakai sendiri yang tentukan apa seorang calon penuhi kwalifikasi atau malah kebalikannya.

 

HR dituntut untuk memperoleh pegawai sama sesuai soft skills dan hard skills yang disuruh Pemakai. Kita mengetahui jika tiap orang tidak prima. Mungkin Pemakai inginkan calon yang lebih eksper di bagian yang kamu lamar.

 

  1. Masalah Intern Perusahaan

Saat sebelum nge-judge mengapa HRD mendadak lenyap, kamu harus tahu jika perusahaan punyai banyak masalah yang perlu dibenahi. Kantor yang kamu lamar kemungkinan mengalami pengurangan omset, pengesahan cabang baru, penggantian status head, dan lain-lain.

 

Masalah di atas dapat menjadi lebih menekan dibandingkan penerimaan karyawan baru. Sebagai jobseeker, kamu tidak perlu cemas pikirkan beberapa hal barusan. Bila waktunya telah pas, mereka dengan suka hati menghubungimu kembali.

 

  1. Sulit Menampik

Sehari-harinya, HRD berjumpa banyak pelamar dari pelosok wilayah. Ada yang tiba dari pagi, bahkan juga ikhlas bermalam di dalam rumah famili supaya tidak terlambat ke arah tempat interviu. Keadaan ini mewajibkan HRD untuk berlaku santun dan menghargakan perjuangan beberapa calon untuk melamar.

 

HRD terkadang tidak sampai hati buat menampik. Mereka manusia juga yang punyai rasa kasihan. Kurang benar rasanya sampaikan kabar buruk pada hari H sesudah interviu atau penghimpunan arsip. Disamping itu, HRD perlu berunding dengan Pemakai saat sebelum memutuskan.

Baca juga: universitas terbaik di china

heroic