Saat ini Korean Wave atau biodata member treasure Hallyu benar-benar menggemborkan pasar musik dan perfilman Indonesia. Pasalnya Korean Wave benar-benar laris di pasar negara kita. Korean wave adalah istilah yang diberi untuk memperlihatkan budaya Korea seperti acara tv, sinetron, film, musik dan sebagainya yang menyebar luas di beberapa penjuru dunia, tidak kecuali Indonesia. Lakunya Korean Wave di negara kita bisa disaksikan dengan pemutaran beragam sinetron Korea dan atraksi dari boy band atau girl band di beberapa aliran tv Indonesia. Sama ini dapat disaksikan jika fans sinetron Korea dan K-pop (Korean Pop) benar-benar meruah di Indonesia.

Fenomena Korean Wave Melanda Indonesia

Bukti lain dari jumlahnya fans K-pop atau sinetron Korea adalah tidak pernah mangkirnya tagar viral topik mengenai pujaan mereka itu di salah satunya sosial media, yakni twitter. Tiap hari mereka giat untuk meningkatkan tagar mengenai pujaannya supaya pujaannya itu dapat dikenali beberapa orang. Seringkali warga yang anti akan hal bau Korea kecewa akan tagar viral Indonesia yang selalu bau Korea. Mereka kecewa karena beberapa berita yang trending di Indonesia kadang ditutupi dengan tagar mengenai pujaan Korea itu.
Korean wave di Indonesia berkembang dengan diawali masuknya drama-drama Korea yang menyuguhkan beragam jenis dalam ceritanya di pertelevisian Indonesia. Salah satunya sinetron Korea sebagai angkatan pertama kali yang tampil di aliran tv Indonesia adalah “Full House”. Full House dimainkan oleh Rain (Lee Yeong-jae) dan Song Hye-kyo (Han Ji-en). Sinetron ini memancing ketertarikan warga karena menyuguhkan hal yang baru di Indonesia. Full House bercerita mengenai pernikahan kontrak yang sudah dilakukan oleh Lee Yeong-jae dan Han Ji-en untuk memperoleh peninggalan rumah orangtua Lee Yeong Jae. Pada akhirannya mereka sama-sama jatuh hati dan memilih untuk menikah beneran. Sinetron ini jadi akar dari drama-drama yang lain mengusung mengenai pernikahan kontrak seperti drama korea “Because This is My First My Life”. Sinetron ini dimainkan oleh Lee Min-ki (Nam Se-hee) dan Jung So-min (Yoon Ji-ho). Tidak berbeda jauh dengan Full House, sinetron ini bercerita mengenai pernikahan kontrak yang usai dengan menikah beneran.

Ketertarikan warga yang semangat akan sinetron Korea semenjak pemutaran drama korea Full House di salah satunya aliran tv Indonesia membuat aliran tv lainnya menyiarkan beberapa drama korea berlainan yang tidak kalah menarik. Misalnya adalah “Boys Over Flowers” yang di saat itu benar-benar menambahkan ketertarikan warga mengenai drama korea. Boys Over Flowers dimainkan oleh artis terkenal di saat ini, yakni Lee Min-ho (Gu Jun-pyo) dan Koo Hye-sun (Geum Jan-di). Sinetron ini bercerita mengenai satu kelompok geng lelaki yang disebut anak orang kaya. Geng mereka namanya F4 yang dengan anggota Lee Min-ho (Gu Jun-pyo), Kim Hyun-joong (Yoon Ji-ho), Kim Bum (Nishikado Soujirou) dan Kim Joon (Song Woo Bin). Seperti pada drama korea lain, menjadi rutinitas jika orang kaya dalam sinetron akan membuli siswa di sekolahannya yang tidak sederajat sama mereka alias miskin. Tetapi ketua dari geng F4 ini selanjutnya jatuh hati ke Geum Jan-di yang disebut wanita miskin tetapi pemberani. Aktor lelaki dalam sinetron ini sebagai hal yang bagus sekali karena rupa mereka yang tampan

Sinetron Korea benar-benar berkembang cepat di tanah air kita sampai sekarang ini. Meskipun sudah tidak banyak disiarkan di tv, tersebarnya situs-situs yang menyuguhkan drama-drama itu saat ini banyak. Beberapa pencinta drama korea tidak perlu pusing kembali mengelola waktu untuk melihat drama korea yang ingin mereka saksikan. Ini karena mereka bisa melihatnya secara streaming di web drama korea. Drama korea yang dihidangkan dalam web juga semakin banyak dengan jenis yang berbeda juga.
Selainnya sinetron Korea, K-pop juga menjadi satu diantara sisi dalam Korean wave. Fans K-pop di Indonesia rerata dari kelompok remaja. Baik remaja wanita atau remaja lelaki suka dengarkan musik dari negeri ginseng ini. Mereka tidak cuman sukai akan musik dari boy band atau girl band K-pop, tetapi suka juga akan dance atau tarian yang mereka bawakan. Video musik yang diperlihatkan juga sangatlah baik karena disokong oleh perlengkapan yang hebat.

K-pop menghamparkan sayapnya di dunia saat angkatan ke-2 K-pop diawali, yakni ada di tahun 2003. Angkatan ke-2 ini dapat disebut sebagai periode keemasan (golden zaman) untuk Kpopers (fans K-pop). Pada jaman ini lebih banyak boy band atau girl band banyak muncul, seperti Super Junior, SNSD, TVXQ, Big Bang, 2PM dan sebagainya. Periode ini sebagai sesion pengenalan K-pop di Indonesia. Fans K-pop Indonesia di saat itu tidak banyak dan exist seperti periode sekarang ini. Dengan tehnologi yang belum hebat sepeti pada periode saat ini, beberapa Kpopers pada jaman itu harus ke warnet atau beli album untuk melihat video musik beberapa pujaannya. Tetapi, beberapa boy band dan girl band angkatan ke-3 ini masih berkilau sampai periode sekarang ini.
Angkatan ke-3 K-pop yang berawal di tahun 2011 makin meledak di Indonesia. Angkatan ke-3 ini memiliki boy band dan girl band paling bepengaruh sejauh jaman. Pasalnya mereka tetap exist sampai saat ini, meskipun angkatan ke-4 K-pop sudah ada. Pada angkatan ke-3 bisa kita jumpai boy band dan girl band, seperti EXO, BTS, NCT, iKon, GOT7, Wanna One, BlackPink, Mamamoo, Red Velvet, Twice dan sebagainya. Mereka berikut yang punya pengaruh besar menebarkan K-pop ke seluruh dunia. Boy band atau girl band pada angkatan ke-3 ini rerata sudah melangsungkan konser di Indonesia untuk melipur penggemar mereka yang ada di Indonesia.
Angkatan ke-4 K-pop tidak kalah exist dari senior-senior mereka. Meskipun angkatan ini mempunyai anggota yang umumnya masih terbilang muda, tidak berarti talenta mereka buruk. Mereka sukses mengangkat marketing perK-pop an. Angkatan ke-4 ini diantaranya adalah Stray Kids, Treasure, Tomorrow X Together, aespa, IZ*ONE, ITZY, Secret Number dan sebagainya. Bahkan juga di angkatan ke-4 ini salah satunya girl band, yakni Secret Number memiliki anggota yang disebut orang Indonesia, yakni Dita Karang.
Perubahan sinetron Korea dan Korean pop di Indonesia sudah pasti bawa imbas postif dan negatif. Imbas positif ada Korean wave salah satunya adalah: yang pertama, karena ada Korean wave karena itu tehnologi mereka yang lebih hebat bisa kita gunakan , seperti smartphone Samsung yang disebut produk dari Korea. Tidak asing untuk beberapa pencinta drama korea untuk mendapati ponsel merk ini dalam drama korea. Beberapa pemain drama korea seperti ingin memberikan jika mereka memberikan dukungan produk mereka dengan menggunakannya dalam drama korea supaya beberapa pencinta drama korea ditambah yang menyukai artis atau aktirs itu bisa mengikuti dengan beli produk itu. Selainnya beli, sebagai remaja yang inovatif kita bisa manfaatkan tehnologi yang ada dan ketahui perkembang tehnologi supaya tidak ketinggalan.
Imbas positif yang ke-2 adalah pelajari budaya asing. Pelajari budaya asing jadi penting supaya kita tidak terserang culture shock (surprise budaya). Karena ada trend Korean wave yang masuk di Indonesia, karena itu kita dapat menahan diri akan budaya-budaya asing yang lain dengan budaya Indonesia.
Imbas positif yang ke-3 adalah, dengan adanya banyak fans K-drama dan K-pop di Indonesia, karena itu beberapa aktris-aktor atau boy band dan girl band lebih mengenali Indonesia. Mereka seringkali me-notice (memerhatikan) fans yang dari Indonesia. Banyak pula beberapa acara variety show yang tampilkan idol ada di Indonesia seperti Analog Trip yang diperankan oleh beberapa anggota Super Junior dan TVXQ. Analog Trip ini berdasar di Bali dan Yogyakarta, tetapi konsentrasi intinya adalah Yogyakarta. Selainnya Analog Trip, ada T.M.I yang diperankan oleh boy band baru yakni Treasure. T.M.I ini lebih terpusat pada Bali yang merupakan pulau yang paling populer dengan keelokan pantainya. Karena ada variety show seperti ini, karena itu pariwisata Indonesia dapat semakin maju dan berkembang.

Korean wave pasti bawa imbas negatif untuk Indonesia. Imbas negatif yang pertama adalah menguranginya rasa nasionalisme pada negara kita ini. Dampak budaya-budaya luar yang masuk tanpa kita ketahui akan mengurangi rasa nasionalisme, seperti lebih membangga-banggakan budaya luar, mengikuti langkah kenakan pakaian, makanan, atau berbahasa.
Imbas negatif yang ke-2 adalah melorotnya permusikan dan perfilman Indonesia. Ini karena banyak warga saat ini yang semakin tertarik akan hal yang bau K-drama dan K-pop. Banyak yang berasumsi jika film sinetron Indonesia terlampau berbelit dengan adegan yang panjang. Ini kembali dengan sinetron Korea yang cuman memerlukan sekurang-kurangnya 16 adegan.
Imbas negatif yang ke-3 adalah sikap konsumtif. Penggemar K-pop memberikan dukungan pujaan mereka dengan beli album yang paling mahal. Harga per-album ini sekitaran Rp.200.000,00 – Rp. 270.000,00 bergantung berat album itu. Mereka beli lightstick sebagai identitas sebuah fandom yang dipakai saat konser berjalan. Lighstick ini memiliki harga sekitaran Rp. 500.000,00 – Rp. 600.000,00. Belum juga bila pujaan mereka melangsungkan konser di Indonesia, beberapa penggemar akan mengambil kantong semakin banyak karena ticket konser yang mahal, yakni sekitaran Rp. 1.000.000,00 – Rp. 2.700.000,00.

Perubahan Korean Wave tidak bisa dijauhi oleh kita. Tetapi, kita bisa membatasnya lebih cinta dengan budaya-budaya lokal serta lebih arif hadapi perubahan globalisasi yang tiba. Sebagai warga Indonesia kita dituntut untuk melestarikan kebudayaan dan memikulgkannya hingga jadi besar dan tentu saja membesarkan hati.