Definisi Kata Kerja Mental – Kata kerja atau kata kerja adalah unit kata yang menggambarkan tindakan yang dilakukan oleh subjek atau aktor dalam sebuah kalimat. Biasanya, kata kerja mengambil peran predikat dalam kalimat. Dalam tata bahasa Indonesia, verba diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, salah satunya adalah verba mental.

Kata kerja mental adalah jenis kata kerja (verba) yang menggambarkan tanggapan atau reaksi terhadap suatu peristiwa atau tindakan. Verba jenis ini biasanya disebut verba perilaku karena mendeskripsikan perilaku atau tindakan seseorang. Orang sering menggunakan contoh kata kerja mental sendiri dalam percakapan sehari-hari.

Selain itu, kata kerja mental juga ditemukan dalam banyak jenis teks, seperti teks pengantar dan lainnya. Untuk mengetahui pengertian dan contoh mental verbs, simak penjelasan mental verbs di bawah ini.

Baca Juga : 

 

Jasa Publikasi Jurnal Nasional dan Internasional 2022

Pengertian Kata Kerja Mental

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kerja atau kata kerja adalah bagian dari tuturan yang fungsinya untuk menggambarkan suatu proses, tindakan atau keadaan, sedangkan mensa memiliki arti yang berkaitan dengan pikiran dan sifat manusia.

Jadi, dari kedua pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa konsep verba mental adalah salah satu jenis verba yang menggambarkan aktivitas pikiran manusia dalam menanggapi suatu tindakan atau peristiwa.

Menurut Fitri Itut Rahayu dalam buku pelajaran bahasa Indonesia SMK kelas 11 menyatakan bahwa makna kata verba mental adalah verba yang menggambarkan persepsi, afeksi dan berpikir. Kalimat yang menggunakan kata kerja mental biasanya terdiri dari sensor dan peristiwa. Misalnya bapak (sensator) kaget melihat banjir di depan rumah (fenomena). Secara umum, kata kerja mental adalah jenis kata kerja yang digunakan untuk menggambarkan tanggapan, tanggapan, atau sikap seseorang terhadap suatu tindakan atau kegiatan. Kata kerja jenis ini juga dikenal sebagai kata kerja perilaku atau kata kerja perilaku karena menggambarkan perilaku seseorang terhadap peristiwa atau fenomena yang dialami.

Verba mental sebagai predikat tidak dapat berdiri sendiri dalam struktur kalimat. Kehadiran kata kerja mental dalam sebuah kalimat sangat bergantung pada subjek dan peristiwa atau fenomena yang dijelaskan.

Ciri-Ciri Kata Kerja Mental

Berdasarkan penjelasan di atas, verba mental memiliki beberapa sifat atau ciri yang membedakan verba ini dengan verba jenis lainnya. Ciri-ciri verba mental adalah sebagai berikut.

1. Jelaskan persepsi manusia, kemelekatan dan kognisi

Fitur utama dari kata kerja mental adalah menjelaskan atau mendeskripsikan suatu tindakan yang berkaitan dengan persepsi, kasih sayang, dan kognisi.

2. Tidak bisa berdiri sendiri

Kata kerja mental adalah kata-kata yang menggambarkan perilaku atau tindakan seseorang. Oleh karena itu, kata kerja ini tidak dapat berdiri sendiri, karena harus memiliki subjek dan objek serta predikat sebagai suatu peristiwa.

3. Pemicu subjek dan objek

Karakteristik lain dari kata kerja mental adalah bahwa kata kerja tersebut harus disertai oleh subjek dan objek yang memicu munculnya tindakan respons. Objek yang dimaksud bisa orang lain atau fenomena tertentu yang menjadi faktor pemicunya.

Bentuk Kata Kerja Mental

Berdasarkan informasi yang ada, ada dua jenis verba mental, yaitu verba dasar (monomorfik) dan verba turunan (polimorfik). Berdasarkan perilaku sintaksisnya, verba mental dibagi menjadi dua perilaku, yaitu perilaku tingkat kalimat dan perilaku tingkat klausa.

Berdasarkan makna semantiknya, kata kerja mental dibagi menjadi tiga makna: kata kerja mental berarti kondisi, kata kerja mental berarti proses, dan kata kerja mental berarti sikap.

 

Contoh 1:

Kita membutuhkan SDM unggul yang toleran dan berakhlak mulia.

Contoh di atas menunjukkan tiga faktor, yaitu kita, kebutuhan dan sumber daya manusia unggul yang toleran dan berakhlak mulia. Berdasarkan bentuknya, kata Need merupakan kata kerja yang monomorfik. Kata need dapat menjalankan salah satu fungsi sintaksis tanpa proses morfologis, yaitu predikat. Kata Need pada Contoh 1 dapat berdiri sendiri dan berfungsi sebagai predikat karena perilaku sintaksisnya pada level ekspresi. Karena perilaku sintaksisnya pada tataran kalimat, kata need pada Contoh 1 merupakan verba transitif dengan satu objek. Disebut transitif karena kata kebutuhan sebagai predikat mensyaratkan adanya objek berupa kalimat “sumber daya manusia yang unggul, toleran dan berakhlak mulia”.

 

Jadi kata tersebut harus mengandung kata kerja objek-transitif. Kata kebutuhan adalah sejenis kata kerja mental karena, karena maknanya, kata tersebut tidak dapat dieksekusi secara fisik. Karena makna semantiknya, kata Need merupakan kata kerja yang mengandung arti “need”.

 

Arti kata kebutuhan pada Contoh 1 adalah keadaan yang berkaitan dengan kebutuhan akan sumber daya manusia yang unggul, toleran dan berakhlak mulia.

Contoh 2:

Kami memulai program B20, yang mencakup campuran B30, solar, dan biodiesel 30 persen.

 

Contoh 2 ada lima bahan, yaitu kita mulai dengan program B20, dan sampai B30 campuran minyak solar dengan biodiesel 30 persen. Contoh 2 memiliki dua kata kerja mental, to begin dan to enter.

 

Berdasarkan bentuknya, kata mulai dan masuk adalah kata kerja monomorfik. Tanpa proses morfologis, kata mulai dan masuk dapat memenuhi salah satu fungsi sintaksis, yaitu predikatif. Kata-kata mulai dan datang pada Contoh 2 adalah predikat berdasarkan perilaku sintaksis tingkat kalimatnya, yang sesuai dengan kata jo dan volo, keduanya diklasifikasikan sebagai kata keterangan.

Karena perilaku sintaksis pada tataran kalimat, kata alku dan entry pada Contoh 2 merupakan verba intransitif tanpa pelengkap. Disebut intransitif karena kata mulai dan masuk tidak memerlukan objek. Kalimat pada Contoh 2 juga tidak memiliki tambahan.

 

Jadi kata start dan enter adalah verba intransitif tanpa pelengkap. Kata mulai dan masuk adalah jenis kata kerja mental karena kata-kata ini tidak dapat dibentuk secara fisik menjadi kalimat karena kepentingannya. Karena makna semantiknya, kata to start adalah kata kerja yang berarti sikap “mulai melakukan”.

 

Arti kata start pada contoh 2 adalah sikap yang berhubungan dengan feeling atau perasaan memulai suatu tindakan. Ini adalah lompatan ke program B20 dan transisi ke program B30. Pada contoh 2, arti kata yang disisipkan adalah sikap yang berkaitan dengan rasa atau sensasi datang ke B30. Contoh 3:

Data adalah kekayaan baru bagi bangsa kita, sekarang data lebih berharga daripada minyak.

 

Contoh 3 terdiri dari 7 bahan yaitu, Data adalah jenis kekayaan baru bagi bangsa kita, sekarang data lebih berharga daripada minyak. Kata kerja mental dalam contoh 3 adalah kata yang berharga. Verba nilai termasuk dalam verba polimorfik dengan awalan ber-.

 

Harga pada contoh 3 memiliki bentuk dasar harga yang diawali dengan ber-. Bentuk dasar harga termasuk dalam kelas kata benda, untuk mengubah statusnya menjadi kata kerja harus ditambahkan awalan ber-. Karena perilaku sintaksisnya pada tingkat kalimat, kata berharga pada Contoh 3 berfungsi sebagai predikat bersama dengan kata lain yang diklasifikasikan sebagai kata keterangan.

 

Berdasarkan perilaku sintaksisnya pada tataran kalimat, kata yang berharga pada contoh 3 merupakan kata kerja intransitif tanpa pelengkap. Disebut intransitif karena kata yang berharga tidak membutuhkan keberadaan objek. Kalimat pada Contoh 3 juga tidak memiliki tambahan. Jadi kata berharga adalah kata kerja intransitif tanpa pelengkap.

 

Kata berharga adalah sejenis verba mental karena makna kata itu tidak bisa bersifat fisik. Karena makna semantiknya, kata berharga adalah kata kerja yang berarti ruang berharga.

 

Arti kata berharga dalam Contoh 3 adalah suatu kondisi yang terkait dengan perasaan atau emosi yang bernilai tinggi. Sesuatu yang datang dengan harga tinggi adalah data. Data disebut sebagai jenis kekayaan baru yang memiliki harga lebih tinggi daripada minyak.

 

Contoh 4:

Kita patut bersyukur, di tengah berbagai tantangan dan badai sejarah Indonesia, karena rumah besar kita bersama masih kokoh.

 

Contoh 4 terdiri dari lima bahan yaitu kita; patut disyukuri bisa bersama dan terus kuat di tengah berbagai tantangan dan badai sejarah, Indonesia sebagai ibu pertiwi yang besar. Kata kerja mental dalam Contoh 4 adalah kata bersyukur.

 

Verba berterima kasih termasuk dalam verba polimorfik dengan awalan ber-. Bersyukur pada Contoh 4 adalah bentuk dasar dari bersyukur, diawali dengan ber-. Bentuk dasar syukur termasuk dalam golongan kata benda, untuk mengubah statusnya menjadi kata kerja harus ditambahkan awalan ber-.

Karena perilaku sintaksisnya pada tingkat ekspresi, kata thank pada Contoh 4 bertindak sebagai predikat di samping kata tambahan yang diklasifikasikan sebagai kata sifat. Berdasarkan perilaku sintaksisnya pada tataran kalimat, kata thank pada Contoh 4 merupakan kata kerja intransitif tanpa pelengkap.

 

Disebut intransitif karena kata syukur tidak mensyaratkan adanya objek. Kalimat pada Contoh 4 juga tidak memiliki tambahan. Jadi kata bersyukur merupakan kata kerja intransitif tanpa pelengkap.

Contoh Kata Kerja Mental

Setelah Anda memahami arti dan sifat kata kerja mental, identifikasi berbagai contoh. Buat kamu yang masih bingung dengan contoh-contoh jenis verba tersebut, simak kumpulan mental verbs dan artinya di bawah ini.

 

pengamatan pertama

Kata kerja persepsi adalah jenis kata kerja mental yang dimaksudkan untuk menggambarkan kemampuan seseorang untuk memahami, proses di mana seseorang mengetahui banyak hal melalui panca indera mereka.

 

Berikut adalah contoh kata kerja:

 

 

Penampilan:

Gunakan mata untuk melihat, mengamati, mengetahui, menyaksikan, mengamati, memprediksi, mengamati, mengunjungi. Memiliki:

perasaan, pengalaman, atau sesuatu yang menyenangkan atau memuaskan.

Mendengarkan:

dapat menerima bunyi (voice) melalui telinga.

Merasa:

merasakan, menikmati

melihat ke:

untuk melihat dan mengingat.

Contoh kalimat:

 

 

“Galih melihat Ratna yang cemberut menunggu angkutan umum di belakang sekolah”. Dalam kalimat ini, “galih” berfungsi sebagai subjek, kata kerja mental “melihat” sebagai predikat. Kalimat “Ratna sedang menunggu angkutan umum…” memicu kata kerja mental Galih.

 

“Oki merasakan udara dingin menyelimutinya saat ia berjalan menyusuri lorong gelap itu.”

 

Kalimat “udara dingin menyelimutinya…” memicu kata kerja mental predikat “senti”, yang dilakukan oleh subjek “oki”.

 

2. kasih sayang

Affect adalah salah satu jenis kata kerja mental yang menjelaskan atau menggambarkan perasaan dan emosi. Berikut adalah contoh kata kerja:

 

 

 

Tertawa:

membangkitkan perasaan gembira, senang, terhibur dan sebagainya, yang berderak.

Sedih:

menangis, menangis, sedih.

Menangis:

Perasaan sedih (kecewa, menyesal, dll) akibat air mata dan kebisingan.

Suka:

mencintai, mencintai, menghargai. Kekhawatiran:

Ketakutan (kecemasan, ketakutan) akan sesuatu yang tidak diketahui secara pasti.

Contoh kalimat:

 

 

“Citra khawatir Aji tidak bisa menyelesaikan misinya kali ini.”

 

Predikat “terpengaruh” pada kalimat di atas merupakan himpunan verba afektif yang menggambarkan perasaan subjek “citra” terhadap ungkapan “Aji ei voi…”, peristiwa atau fenomena yang memicu verba mental.

 

“Kanaya menyesal tidak bisa berada di sisi ayahnya di saat-saat terakhirnya.”

 

Kalimat “tidak bisa bersama ayahnya…” memicu verba afektif “maaf” sebagai predikat emosi yang dialami subjek “Kanaya”. 3. Pengetahuan

Kata kerja kognitif adalah jenis kata kerja yang menggambarkan proses dimana seseorang memperoleh pengetahuan atau informasi. Berikut adalah contoh katanya:

 

 

Memahami:

untuk memahami dengan benar, untuk mengetahui dengan benar.

Tahu:

mengenali atau menyadari.

Memikirkan:

untuk berusaha untuk menyelesaikan, untuk mempertimbangkan, untuk mempertimbangkan. Evaluasi:

membuat atau mengasumsikan perhitungan perkiraan, membuat asumsi.

Pendapat:

menjadi dan mengungkapkan pendapat.

Contoh kalimat:

 

 

“Ayah sedang mempertimbangkan untuk mendaftarkan mobil keluarga kami untuk program asuransi mobil.”

 

Predikat “berpikir” adalah kata kerja mental yang menggambarkan aktivitas kognitif subjek “ayah” dalam menanggapi frasa “pendaftaran mobil keluarga …”.

 

“Arumi memahami bahwa keputusan Malik untuk tidak membiarkannya bekerja saat hamil adalah bentuk perhatian Malik terhadap keselamatannya.”

 

Dalam kalimat ini, frasa “keputusan Malik…” mendorong subjek “Arumi” untuk merespons dengan kata kerja predikat mental “mengerti”.

Contoh Penggunaan Kata Kerja Mental

Berikut adalah kumpulan contoh penggunaan kata kerja mental dalam sebuah kalimat:

 

 

Rani teringat kata-kata Ratna kemarin.

David menyadari dia telah kehilangan ponselnya dalam perjalanan ke kantor.

Ibuku mulai menangis ketika dia melihat adikku dibawa ke rumah sakit.

BMKG memprediksi akan terjadi bencana banjir di kawasan perkotaan Jakarta Timur setelah hujan yang sangat deras.

Masyarakat sangat menyukai tarian tradisional yang dibawakan oleh rombongan tari sekolah tersebut. Pak Budi kaget mendengar anaknya mengalami kecelakaan.

Seorang pria menyesali caranya memperlakukan pacarnya setelah hubungan mereka berakhir.

Ibu Rahmi mengkhawatirkan kondisi anaknya yang merantau ke luar kota.

Aku merasa ayah mendorongku tadi malam.

Fira jujur ​​soal kepergian ibunya. Danu sangat senang karena mendapat uang jajan dari ayahnya.

Dinda sedih karena hasil tesnya turun drastis kali ini.

Ratna menolak permintaan maaf Fadlan karena sudah terlanjur sakit hati.

Umat ​​Islam percaya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT.

Seorang penggemar bersemangat saat akhir Olimpiade Nasional diumumkan. Danang bertemu Duta saat berada di tengah keramaian di sebuah konser.

Putra sependapat dengan pendapat yang disampaikan Fahm.

Ibu mengharapkan saya menjadi orang yang sukses dan mau membantu orang lain.

Andi menikmati makanan ibunya.

Penonton sangat antusias saat konser dimulai. Adi memarahi adiknya karena merusak koleksi mainan kesayangannya.

Dani sakit hati saat teman-temannya menyebutnya gendut.

Fina memahami perasaan temannya yang sedang berduka.

Indah yakin kekasihnya tidak akan pernah mengkhianati cintanya.

Arin setuju dengan pendapat para panelis di televisi. Anna meragukan hasil akhirnya ketika nilai diumumkan.

Winda tertawa terbahak-bahak lelucoon yang di buat Andi

Penutup

Tata bahasa Indonesia memiliki beragam kata kerja yang dapat disisipkan ke dalam kalimat untuk memperkaya tulisan Anda. Kata kerja mental yang berbeda adalah jenis kata kerja yang berbeda, sering ditemukan dalam ejaan yang berbeda. Namun, banyak orang yang tidak mengenali ragam kata kerja ini, padahal arti kalimatnya bisa tersampaikan dengan lebih akurat bila digunakan dengan benar.