hallo sahabat jasa aqiqah kami akan membagikan tentang artikel makan a hadist setiap anak tergadaikan pada aqiqahnya yuk simak artikel berikut ini.

Disebut dalam hadist dari samurah radhiyallahu’anhu berkata : Rasulullah Shallallahu’alayhi wa Sallam bersabda,
كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuh dicukur rambutnya dan diberi nama.”

Dalam riwayat Ahmad dan an-Nasa’I disebutkan dengan lafal;
“Setiap anak tergadaikan pada aqiqahnya”

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah disebutkan dengan lafal;
“Setiapanak tergadaikan pada aqiqahnya”

Para ulama berbeda pendapat dalam hal penafsiran

Al-Khaththabi mengatakan : Ahmad mengatakan, “Ini berkaitan dengan masalah syafaat. Maksudnya, apabila orangtua tidak melaksanakan aqiqah anaknya, kemudian si anak meninggal dunia di waktu kecil, diatidak dapat memberikan syafaat kepada orangtuanya. Lafal Rohiynatun dengan Ta Marbuthah artinya tergadaikan. Huruf Ta Mrbuthah di sini adalah hiperbolis. Contohny seperti Fulan sangat di hormati di kalangan kaumnya.

Pendapat Imam Ahmad ini sama seperti pendapat Atha’ al-Khurasani yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanadnya dari Yahya bin Hamzah berkata “aku bertanya kepada Atha’; Apa arti “Murtahinun Biakiykotihi?” Dia menjawab , “Tidak mendapatkan syafaat anaknya.”

Mulia Ali al-Qari mengatakan, “Biakiykotihi artinya; keselamatan dai bencana tergantung pada aqiqahnya. Atau seperti sesuatu yang digadaikan, sehingga tidak bisa dinikmati selain dengan ditebus terlebih dahulu. Sebab, anak merupakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada kedua orangtua. Oleh karena itu, kedua orangtua haru bersyukur karenanya. Pendapat lain menyatakan bahwa artinya adalah bahwa syafaat si anak terkait erat pada aqiqahnya. Selama belum dilaksanakan aqiqahnya dan si anak meninggal dunia sewaktu masih kecil, dia tidak dapat memberi syafaat kepada kedua orangtuanya.

At-taurabusyti mengatakan, “Lafal ‘Murtahinun’ perlu ditinjau kembali. Sebab, secara terminologis artinya adalah orang yang mengambil gadai sebagai jaminan pinjaman. Sedangkan objek gadainya sendiri disebut ‘Marhuwnun’ atau ‘Rohiynun’.Belum pernah kami menemukan bentuk maf’ul dari lafal ‘Irtihaanun’ dalam pernyataan para ahli bahasa Arab. Kemungkinan, perawi memakai ungkapan tersebut dengan metode analogi (qiyas).

Ath-Thayyibi mengatakan, “Metode metafora (majas)tidak ada batasnya dan tidak tergantung pada arti terminologis. Sehinga, tidak perlu diragukan bahwa lafal ‘Irtihaanun’ di sini tidak diartikan secara terminologis. Buktinya adalah pernyataan az-Zamakhsyari dalam kitab Asasul Balaghah pada pembahasan tentang retorika metafora : ‘Fulanun rohinun bikadzaa’ “si Fulan digadaikan sekian” artinya sama dengan ‘Rohiynun’ atau ‘Rohiynatun’. Sedangkan ‘Murtahinun bihi’ adalah metafora dari lafal tersebut.

Penulis kitab Al-Hidayah mengatakan, “Lafal ‘Rohiynatun Biakiykotihi’ artinya bahwa aqiqah harus dilakukan pada si bayi. Kondisinya yang harus dilakukan dan tidak bisa terepas, sama dengan kondisi barang yang harus dilakukan dan tidak bisa terlepas, sama dengan kondisi barang yang digadaikan dan tidak bisa terlepas dari tangan orang yang memberi pinjaman samapai ditebus. Huruf Ta Marbuthah pada lafal ‘rohiynatun’ bersifat hiperbolis dan bukan untuk menunjukan jenis ferminis. Sama seperti ‘Assatmu’ dan ‘Assatiymatu’ “dicaci”.

Sungguh ini adalah deskripsi yang cukup mengherankan. Pernyataan at-Taurabusyti bahwa lafal ‘Murtahinun’ dalam bentuk maf’ul tidak ernah ada dalam konteks bahasa arab dan bahwa perawi menyangka lafal tersebut sama artinya dengan lafal ‘Rohiynatun’ yang etrdapat dalam teks hadist, lalu diamegonjungsikan maknanya saja menurut perkiraannya. Kemudian, lafal ‘gadai’ di sini tidak diartikan secara faktual, tapi diartikan secara metafora. Maka, hal ini dapat langsung sipahami kesalahannya oleh yang berdaya pikir lemah sekalipun. dalam pemaparannya akan datang penjelasan tentang masalah ini secara mendetail.